Selasa, November 22, 2022

Menyesalkah?

Terjaga dan tidak bisa tidur. Bukan karena ingin menunggu pertandingan piala dunia yang hari ini mulai berlangsung nin jauh di Qatar sana. Namun mata tak kunjung terpejam karena memikirkan sesuatu yang pelik.

Menyesalkah aku atas apa yang tengah berlangsung saat ini? Kalau ku ingat-ingat lagi dan melihat kondisi sekarang, aku rasa aku menyesal. Keadaan sekarang tidak memuaskan hatiku. Walaupun telah banyak pertimbanganku tapi tetap aku menyesal. 

Status bergengsi yang telah aku pangku selama lebih dari 12  tahun harus aku lepaskan untuk sesuatu yang tidak pasti seperti ini. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat. Tambahan lagi penghargaan atas bertahannya kami di posisi kami seakan tidak dihargai dan disamakan dengan pendaftar baru yang sungguh di luar dugaan. Tambahan lagi harus bersaingan dengan teman sesama kantor untuk memperebutkan posisi dengan jumlah kuota yang tidak sebanding. Sungguh menyakitkan.

Ah..., apa mau dikata. Terima saja dengan ikhlas. Semoga ada hikmah di balik semua ini.

Kamis, April 28, 2022

Akhirnya...

Setelah sekian lama. Terakhir buat tulisan di tahun 2011. Masa itu masih di Yogya, lanjutin studi S2 di UGM. Sebelas tahun sudah. Begitu banyak yang terjadi dalam 11 tahun itu.

Promise, waktu senggang akan nulis lagi.

Jumat, November 11, 2011

restu

Aku di sini ingin sekali ini cepat berlalu, melangkah menuju sesuatu yang aku dan dia inginkan.
Semoga ini akan berjalan sesuai keinginan ku.
Mama.., tolong restui kami, tolong dukung aku dengan restumu, dengan doa yang tidak muluk.

Minggu, Juni 13, 2010

Rawan Kecelakaan dan Rawan Pangan

Secara sepintas pemahaman frasa rawan kecelakaan bermakna ‘banyak kecelakaan’, dan frasa rawan pangan bermakna ‘kurang pangan’. Dari pemahaman sepintas itu dapat dikatakan bahwa kata rawan memunculkan makna ‘banyak’ dan ‘kurang’. Hal ini dapat menimbulkan kerancuan.

Mengapa? Karena terdapat dikotomi. Dalam sebuah kata, terdapat dua buah makna yang saling bertolak belakang. Benarkah hal itu?

Untuk bisa menjelaskan apa sebenarnya makna kata rawan dan mengapa bisa mengarah menjadi makna ‘kurang’ dan ‘banyak’, dapat diawali dengan melihat makna kata rawan di dalam kamus.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendaftarkan empat buah kata rawan sebagai bentuk berhomonim (kata yang sama pengucapan dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya). Namun, yang dapat menurunkan makna dalam frasa rawan kecelakaan dan rawan pangan adalah ‘mudah menimbulkan gangguan keamanan atau bahaya’.

Frasa rawan kecelakaan memiliki pengertian ‘di tempat atau daerah tersebut mudah terjadi atau sering terjadi bahaya kecelakaan’. Pengertian ‘mudah terjadi atau sering terjadi’ menampilkan pula pengertian ‘banyak terjadi’. Sebaliknya, frasa rawan pangan di samping memberi pengertian ‘menimbulkan bahaya’ juga memberi pengertian ‘bahaya itu muncul karena ketiadaan atau kekurangan pangan’.

Sepertinya itulah yang menyebabkan munculnya makna ‘banyak’ untuk frasa rawan kecelakaan dan makna ‘kurang’ untuk frasa rawan pangan. Perhatikan keterkaitan kata rawan dengan makna ‘banyak’ dan ‘kurang’ berikut ini.

Pengertian ‘banyak’ dalam frasa rawan kecelakaan sebagai makna ikutan dari makna ‘mudah menimbulkan gangguan keamanan atau bahaya’. Karena gangguan atau bahaya itu akan terjadi kalau banyak atau sering terjadi kecelakaan. Pengertian ‘kurang’ dalam frasa rawan pangan ialah sebagai makna ikutan dari makna ‘mudah menimbulkan gangguan keamanan atau bahaya’. Karena gangguan atau bahaya itu akan terjadi apabila kekurangan atau ketiadaan pangan.

Yang satu muncul sebagai bahaya kalau kekurangan atau ketiadaan dan yang lain muncul sebagai bahaya kalau seringkali atau banyak terjadi.

Jumat, Agustus 28, 2009

Singkatan dan Akronim

Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Sedangkan akronim, ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
Khusus untuk pembentukan akronim, hendaknya memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut.
(1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia.
(2) Akronim dibentuk dengn mengindahkan keserasian kombinasi vocal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.
Pedoman pembentukan singkatan dan akronim diatur dalam Keputusan Mendikbud RI Nomor 0543a/U/198, tanggal 9 September 1987 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
1. Singkatan
a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya :
Muh. Yamin
Suman Hs.
M.B.A. (master of business administration)
M.Sc. (master of science)
S.Pd. (Sarjana Pendidikan)
Bpk. (bapak)
Sdr. (saudara)
Kol. (Kolonel)
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti tanda titik.
Misalnya :
MPR (Majelis Perwakilan Rakyat)
PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia)
KTP (Kartu Tanda Penduduk)
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu titik.
Mislnya :
dsb. (dan sebagainya)
hlm. (halaman)
sda. (sama dengan atas)
d. Singkatan umum yang terdiri atas dua huruf, setiap huruf diikuti titik.
Mislnya :
a.n. (atas nama)
d.a. (dengan alamat)
u.b. (untuk beliau)
u.p. (untuk perhatian)
e. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya :
Cu (kuprum)
cm (sentimeter)
l (liter)
kg (kilogram)
Rp (rupiah)
2. Akronim
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya :
ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)
LAN (Lembaga Administrasi Negara)
SIM (surat izin mengemudi)
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Misalnya:
Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)
Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia)
Sespa (Sekolah Staf Pimpinan Administrasi)
Pramuka (Praja Muda Karana)
c. Akronim yang buka nama diri yang berupa gabungan, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kecil.
Misalnya:
pemilu( pemilihan umum)
rapim (rapat pimpinan)
rudal (peluru kendali)
tilang (bukti pelanggaran)

* diambil dari buku EYD

Jumat, Juni 05, 2009

Ketika Hati Tak Ingin Bicara

Siang begitu panas begitu juga suasana hati ku, tak tahu mengapa. Dibohongi sahabat apa enak? Tidak pernah ada keraguan atas apa yang diucapkannya. Tapi baru menyadari dan melihat kenyataan bahwa dia bohong buat hati ini terasa sakit. Apa dia punya hak untuk berbuat seperti itu? Tidak.
Ya udah lah, gak usah dipikirin... Tapi gak bisa... Perasaan mempercayainya yang membuat hati mengatakan bahwa semua itu gak mungkin dia lakukan. Apa ketulusan ku kurang ketika memperlihatkan bahwa setiap kali dia berbuat seperti itu aku dengan tulus memaafkannya? Sahabat macam apa dia sebenarnya???
Lama-lama eneg juga dengan semua ini..., semua persahabatan ini...

Jumat, Mei 15, 2009

demam facebook

"Facebook lagi.... facebook lagi..."

Nyanyian Joni terdengar pagi, siang, atau sore kalau udah ada yang ngases facebook di ruangan komputer. Padahal yang ngomong sendiri update banget tuh facebooknya. He he he...

Dari yang tua ampe yang muda punya facebook, tapi ada juga yang konsisten dengan pendiriannya yang gak mau facebook2an... he he... bravo... ditengah-tengah demam facebook yang meraja lela....

Gak apa-apa lah, bagi yang belum punya facebook ayo rame-rame ke ruang komputer ntar dini ajarin...

he he...